Misteri Musala Gosong

Pict by Google

Jadwal kegiatanku di kampus semakin padat karena semester ini aku akan melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di suatu desa cukup terpencil. Kebetulan sekali, aku sekelompok dengan Dama, teman baikku. Jadi, aku tidak merasa sendirian.

"Ren, tahu enggak, kabarnya desa tempat kita KKN nanti adalah desa yang angker," ujar Dama ketika berkunjung ke rumahku.

Aku tertawa mendengar ucapan Dama. Namun, tanpa Dama ketahui, aku sudah lebih dahulu tahu. Sepupuku yang telah menceritakan semuanya tentang desa itu. Dia pernah KKN juga di sana.

"Itu hanya takhayul, Dam!" seruku sembari tertawa.

"Serius, Ren!"

"Jadi, apa masalahnya kalau beneran angker? Malah bagus itu, bisa uji nyali."

Wajah Dama terlihat kesal ketika mendengar ucapanku. Sahabatku itu memang penakut, berbanding terbalik denganku. Memang benar apa yang dikatakan Dama, ada sesuatu yang mistis di Desa Sugih. Sepupuku mengatakan ada sebuah musala angker di sana, namanya Musala Gosong.

***
Setelah menempuh perjalanan yang cukup lama, kelompok KKN-ku tiba di Desa Sugih. Kami disambut oleh Pak Kades dan para perangkat desa. Usai perkenalan, kami dipersilakan untuk beristirahat dan tinggal di rumah Pak Kades.

Baru beberapa hari saja, kami sudah merasa betah. Semua itu tak lain karena sikap warga desa yang baik dan ramah. Dama yang awalnya ketakutan, kini terlihat biasa saja.

Sembari melaksanakan tugas KKN di Desa Sugih, aku juga mencari tahu tentang keberadaan Musala Gosong. Ternyata, saat ini warga desa enggan memberi tahu letak Musala Gosong. Entah apa penyebabnya. Namun, aku tidak lelah berusaha. Rasa penasaranku makin menjadi.

"Nak Rendi tahu dari mana tentang Musala Gosong?" Pertanyaan Pak Kades yang tiba-tiba, membuatku terkejut.

"Dari mahasiswa yang pernah KKN di sini juga, Pak," jawabku jujur.

"Memangnya, ada kepentingannya dengan tugas KKN-mu?"

"Tidak ada, Pak. Aku hanya penasaran. Sekadar uji nyali."

"Kalau begitu, lupakan soal musala tersebut. Fokus saja dengan tugas KKN-mu," saran Pak Kades sembari berlalu.

Aku menatap kepergian Pak Kades hingga beliau menghilang dari pandanganku. Makin dilarang, aku makin tertantang. Sebenarnya, apa yang telah terjadi di desa ini? Untuk sementara waktu, aku akan fokus pada kegiatan KKN-ku.

***
Tidak terasa sudah dua minggu berlalu. Kegiatan kami selanjutnya adalah membuat gapura. Aku, Dama, teman-teman, dan warga desa bergotong royong mengerjakannya. 

"Pak, apa gapura ini letaknya tidak terlalu jauh? Menurutku, lebih cocok di dekat pohon beringin tadi," usulku kepada salah satu perangkat desa.

"Kami hanya menjalankan perintah Pak Kades, Bang."

Sungguh perintah yang aneh. Aku jadi penasaran dengan jalan di sekitar pohon beringin tersebut. Setelah membuat gapura, aku akan menyelidikinya.

"Dama, ikut aku sebentar," ajakku ketika kami sudah menjauh dari warga dan teman-teman lainnya.

"Memangnya kita mau ke mana, Ren?" 

Aku tidak menjawab pertanyaan Dama. Namun, dia tetap mengikuti langkahku. Kami memasuki hutan yang berada tidak jauh dari pohon beringin. 

"Ren, kenapa kita ke sini? Ayo, kita pulang saja!" seru Dama dengan wajah yang terlihat cemas.

Sebenarnya, aku kasihan dengan Dama. Namun, aku membutuhkannya untuk dijadikan alasan. Pasti Pak Kades curiga jika hanya aku yang tidak ada di rumahnya.

"Ren, li-lihat itu!" tunjuk Dama dengan terbata-bata.

Aku mengalihkan pandanganku menuju ke arah yang ditunjuk Dama. Ada sebuah bangunan yang terlihat seperti hangus terbakar. Aku bergegas melangkah mendekati bangunan tersebut. Dama pun mengikuti dari belakang.

Aku dan Dama terus berjalan mengelilingi bangunan itu. Setelah puas berkeliling, akhirnya aku yakin bahwa bangunan di hadapan kami itu adalah Musala Gosong. Musala itu sebenarnya terletak tidak jauh  dari rumah penduduk. Namun, keberadaannya kini seakan-akan sengaja ditutupi. 

"Kita ke sana. Mungkin rumah itu ada penghuninya," ajakku.

"Ren, ngapain kita ke sana? Serem!"

Memang benar apa yang dikatakan Dama, suasana di sekitar musala terlihat menyeramkan. Namun, aku ingin bertanya kepada warga yang tinggal tidak jauh dari musala itu. Meskipun takut, Dama masih mengiringiku.

"Assalamualaikum, apakah ada orang di dalam?" panggilku.

Berkali-kali aku memanggil, tetapi pintu tidak kunjung terbuka. Aku pun memutuskan untuk memeriksa rumah selanjutnya. Baru saja hendak berbalik, tiba-tiba pintu rumah terbuka sendiri. Sebenarnya, aku merasa ragu untuk masuk ke rumah tersebut. Namun, kutepis keraguan itu. 

Satu per satu rumah, sudah kami periksa. Ternyata, semua rumah itu dalam keadaan kosong dan semrawut. Hari mulai gelap. Aku pun mengajak Dama pulang. Meskipun terlihat menyeramkan, ternyata tidak ada apa pun di Musala Gosong. 

Baru beberapa langkah berjalan, ada embusan angin yang menerpa wajahku. Seketika kulitku meremang. Terdengar samar di telinga, tangisan seseorang yang meminta tolong.

"Tunggu sebentar, Dam. Kamu mendengar suara itu?" 

"Suara apa? Tak ada suara apa pun. Ayo, buruan kita pergi," ajak Dama tak sabar.

Ucapan Dama tidak kuacuhkan. Apalagi setelah aku melihat dua sosok berdiri di ujung bangunan musala. Meskipun ada sedikit takut, aku tetap mendekati dua sosok tersebut.

"Siapa kalian?" tanyaku.

"Kau bisa melihat kami?" sosok itu balik bertanya.

Tentu saja aku bisa melihat mereka dengan jelas. Dua sosok berlainan jenis itu terlihat pucat menyeramkan. Mereka menceritakan semuanya kepadaku. Tentang musala yang sengaja dibakar juga tentang seseorang yang memfitnah mereka. Bahkan, seseorang itu sempat tertimpa kayu dari plafon musala yang terbakar, tepat mengenai punggungnya. 

Meskipun tidak berjanji, aku akan berusaha mencari orang yang dimaksud oleh dua sosok itu. Dengan bantuan mereka, kami bisa pulang lewat jalan pintas. Aku dan Dama mengendap-endap mendekati rumah Pak Kades. Tanpa sengaja, aku melihat beliau keluar dari kamar mandi. Letak kamar mandi memang di luar rumah.

"Pak Kades, tanda apa yang ada di punggungmu?" Pertanyaanku membuat Pak Kades terkejut.

"Apa urusanmu?"

"Sepertinya itu bekas luka bakar," celetuk Dama.

"Apakah Pak Kades yang sudah membakar musala di dalam hutan beringin itu?" Aku menuduhnya tanpa basa-basi.

Pak Kades tertawa sumbang ketika mendengar tuduhanku. Beliau terlihat marah dan memelotot ke arahku. Meskipun benar apa yang kukatakan, Pak Kades menganggapku tidak memiliki bukti.

"Memang benar aku pelakunya. Aku merasa terhina karena wanita itu menolakku dan lebih memilih pria miskin itu! Jadi, lebih baik kuhabisi saja mereka," jelas Pak Kades sembari tertawa. "Kalian tidak ada bukti. Jadi, jangan menantangku!"

"Kami ada buktinya, Pak. Ini ...." Dama menunjukkan sebuah ponsel kepada Pak Kades.

Aku terkejut dengan respons yang Dama berikan. Ternyata, sahabatku itu tidak sepenakut yang aku bayangkan. Yang lebih mengejutkan lagi, korban pria yang terbakar di Musala Gosong tersebut, ternyata pamannya.

***
Palembang, 17 April 2022
#CerpenMisteriRamadan